Bunuh diri telah lama menjadi pro kontra di Indonesia. Sayangnya, fenomena ini seringnya dipandang sebelah mata. Meski tingginya angka kasus bunuh diri di Indonesia tak boleh disepelekan. Menurut laporan Badan Sentra Statistik (BPS) setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di segala kawasan Indonesia pada tahun 2015. Beda lagi dengan data yang dikumpulkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Menurut data perkiraan WHO, angka kematian dampak bunuh diri di Indonesia pada 2012 adalah 10.000.

 

Angka nyata di lapangan sebetulnya bahkan mungkin lebih tinggi lagi. Ketimpangan ini pada dasarnya bukan kekeliruan pencatutan laporan dari masing-masing institusi, melainkan berasal dari kenyataan bahwa bunuh diri bukanlah penyakit yang dapat dengan mudah “diramal” lewat ada tidaknya gejala sehingga besar kemungkinannya hal yang di depan mata tak dapat kita lihat dengan terang. “Kenapa dia tiba-tiba bunuh diri?”

 

Buktinya, bunuh diri pada umumnya adalah perbuatan yang dijalankan atas dasar luapan emosional dan tanpa pikir panjang dengan keputusan yang hanya diwujudkan beberapa menit atau jam sebelumnya — melainkan mungkin menaruh alasan yang mengendap lama dalam jiwa, jauh terasingkan dari pengetahuan orang lain.

 

Apa yang menjadi alasan bunuh diri?

Setiap aksi bunuh diri adalah kasus yang unik, dan tak ada yang akan benar-benar tahu apa yang jadi alasan utama di baliknya, bahkan para ahli sekalipun.

 

Ada banyak alasan logis mengapa seseorang mungkin berkeinginan mengakhiri hidupnya sendiri. Sebagian besar orang yang mencoba bunuh diri memiliki penyakit jiwa. Lebih dari 90 persen orang yang bunuh diri memiliki gangguan mental, entah itu depresi, gangguan bipolar, atau diagnosis lainnya. Penyakit kronis, penyalahgunaan zat, trauma kekerasan, faktor sosial ekonomi, hingga putus cinta bahkan umum menjadi penunjang harapan bunuh diri.

 

Namun perbuatan bunuh diri itu sendiri tidaklah rasional — secara khusus bagi kita yang memandangnya dari kacamata luar. Insting manusia dirancang sedemikian untuk senantiasa mengedepankan keselamatan diri, dan harapan untuk melindungi diri ini mendorong pemikiran bahwa nyawa sepatutnya dijaga baik-baik dengan segala metode.

 

Sebaliknya bagi mereka yang berdaya upaya untuk mengakhiri nyawanya, mereka berdaya upaya problem dan kesakitan mereka akan hilang dengan mencoba bunuh diri. “Untuk alasan yang tak kita pahami sepenuhnya, beberapa orang mengalami keputusasaan dan rasa sakit yang demikian itu dalam sehingga mereka percaya bahwa mereka lebih baik mati saja,” kata Dr. John Campo, kepala psikiatri dan kesehatan perilaku di The Ohio State University Wexner Medical Center, dikabarkan dari Live Science.

 

Kita segala menghadapi problem dalam hidup. Satu perbedaannya adalah bahwa di antara individu-individu yang memutuskan mengakhiri nyawanya sendiri, problem mereka ini menyebabkan rasa sakit atau keputusasaan yang luar umum sehingga mereka tak dapat memperhatikan jalan keluar yang lain. Pada dasarnya setiap orang memiliki insting untuk bertahan di dunia ini. Hanya saja tergantung pada apa yang dipercaya, karenanya tubuh dan pikirannya bahkan akan mencontoh. Bila dia percaya bahwa dia tak akan sanggup hidup, karenanya tubuhnya bahkan akan turut merespon dengan sikap apatis — layaknya bom waktu yang menghitung mundur.

 

Orang yang mencoba bunuh diri mungkin tak dapat beradaptasi dengan problem hidupnya

Pada dasarnya, tingkat kerumitan problem yang dialami dan kekuatan mental dapat berbeda-beda setiap orang. Banyak orang yang menganggap problem yang dihadapinya lebih berat dibanding orang lain, meskipun ketika dipandang dari sudut pandang luar yang lebih luas, ada banyak orang di luar sama yang menghadapi problem serupa dan bahkan lebih berat dibanding dirinya. Tanggapan seseorang kepada stres dan problem bahkan berbeda-beda. Ada yang tetap optimis ketika dirinya sedang dilanda banyak problem. Ada yang pesimis, merasa tak sanggup dengan segala beban yang dia sepatutnya tanggung sehingga merasa hidupnya tak berarti lagi.

 

Sedikit banyak, kegagalan beradaptasi inilah yang seringnya menjadi salah satu kekuatan penunjang bagi orang-orang yang kelihatan “berhasil” untuk mencoba bunuh diri. Perfeksionisme yang sehat sepatutnya mencerminkan usaha yang positif menuju pencapaian; sekali gagal, Anda bangkit untuk terus mencoba lagi dan lagi, melainkan masih sanggup mengakui kekeliruan dan menurunkan standar seandainya dibutuhkan. Namun bagi beberapa orang yang memiliki metode pandang “cacat”, justru perilakunya mencerminkan kekhawatiran akan pengukuran orang lain dan ketakutan besar akan kegagalan ketika mencoba mencapai cita-cita muluk yang tak dapat ditempuh.

 

Mereka tak memiliki pola pikir sehat yang dibutuhkan untuk menyesuaikan pandangan mental mereka, bahkan ketika keadaan mereka memerintahkan mereka untuk beradaptasi. Sebaliknya, mereka tetap bertahan pada siklus jahat dari “bertingkah lebih banyak lagi, lakukan lebih baik lagi, jangan hingga gagal, jangan lengah, jangan bersantai … bertingkah lebih banyak, lakukan lebih baik, jangan hingga gagal, jangan lengah, jangan bersantai,” dan tak pernah membolehkan diri mereka sebentar untuk berdamai.

 

Harapan untuk bunuh diri seringnya tak berkeinginan dikenal orang lain

Sebagian orang yang melakukan bunuh diri mungkin memiliki problem mental yang terang, seperti depresi atau kecanduan. Banyak juga yang dipicu oleh perasaan amarah, keputusasaan, nelangsa, atau kepanikan yang intens. Sementara itu, banyak juga kasus bunuh diri yang tak menunjukkan alasan konkret maupun gejala apapun. Banyak orang yang kelihatan bergembira, berhasil, dan memiliki hidup total memutuskan untuk mengakhiri hidupnya tanpa alasan yang dikenal oleh orang-orang terdekatnya sekalipun.

 

Semasa hidupnya, orang-orang ini tampaknya baik-baik saja dan dapat menjalani hidup normal layaknya orang lain, tak menderita maupun terluka. Namun itu benar-benar hanya karena mereka sangat hebat dalam menutupi problem mereka. Ideal di balik penampilan dan tingkah laku “bergembira” mereka tersimpan pusaran dari konflik emosional dan kekacauan jiwa. Mereka dapat sangat lihat menjaga penampilan demi menyesuaikan diri dengan lingkungan luar dan ekspektasi dari orang lain. Mereka dapat senantiasa kelihatan indah, bergembira, dan berhasil di luar bahkan seandainya jiwanya sedang sekarat di dalam.

 

Banyak orang tak pernah membolehkan orang lain tahu apa yang mereka rasakan atau rencanakan. Hal ini mungkin didasari oleh ketidakinginan untuk mengecewakan orang lain, ketidakinginan untuk dihakimi atas perbuatan nekatnya, atau ketidakinginan untuk rencananya digagalkan. “Orang-orang yang berniat bunuh diri tahu bahwa mereka sepatutnya menaruh dan mematuhi rencana mereka sendiri seandainya mereka akan melakukan perbuatan hal yang demikian,” Dr. Michael Miller, asisten profesor psikiatri di Harvard Medical School.

 

Inilah sebabnya mengapa akan sangat sulit bagi orang sekitar untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi dengan orang-orang ini. Mereka sangat pandai menyembunyikan luka mereka. Anda akan menduga Anda benar-benar mengetahui mereka. Anda bahkan mungkin percaya bahwa koneksi Anda dan dia telah sangat dekat layaknya keluarga sendiri ketika tiba-tiba, mereka bunuh diri.

 

Gelagat orang yang berkeinginan mencoba bunuh diri tak senantiasa kelihatan terang bagi orang sekitar

Sebagian kasus bunuh diri (dan mencoba bunuh diri) tak datang tiba-tiba tanpa gejala. Sebagian orang — termasuk mereka yang ragu-ragu untuk bunuh diri sekalipun — dapat secara sadar atau tak sadar memberi petunjuk untuk orang lain di sekitarnya sebagai usahanya meminta pertolongan.

 

Menurut Yayasan Amerika untuk Pencegahan Bunuh Namun (ASFP), antara 50 hingga 75 persen orang yang mencoba bunuh diri pernah mengutarakan pikiran, perasaan dan rencana bunuh diri secara khusus dahulu sebelum melakukan aksi nekat hal yang demikian. Namun sayangnya, petunjuk-petunjuk peringatan bunuh diri ini kerap kali luput dari perhatian. Keyakinan masyarakat umum bahwa aksi bunuh diri adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dan adalah sikap tak menghormati agama menjadi penyebab yang paling umum.

 

Namun yang tak banyak dikenal orang umum bahwa sebetulnya dengan membicarakan harapan bunuh diri dan hal-hal sadis lain berhubungan usahanya, orang-orang yang berkeinginan bunuh diri sedang meminta teman bicara yang dapat menolong dan mencegah mereka dari aksi nekat hal yang demikian. “Mereka berkeinginan hidup, melainkan mereka berkeinginan mati,” kata Campo. “Orang-orang itu dalam linglung. Mereka sedang kesakitan.” Namun mereka tak tahu sepatutnya apa dan bagaimana.

 

Berikut adalah beberapa perilaku yang dapat membuat teman dan keluarga mengetahui bahwa dia berisiko tinggi untuk mencoba bunuh diri (disadur dari HelpGuide.org):

 

  1. Aku perihal bunuh diri: Pernyataan seperti “Bila lebih baik mati”, “Keluarga akan hidup lebih baik seandainya tanpa aku di dunia”, atau “Tak suatu ketika kita berjumpa lagi nanti…,”
  2. Mencari metode bunuh diri: Mencoba mendapatkan akses senjata, pil tidur, tali tambang, pisau, atau benda lain yang dapat dipakai untuk usaha bunuh diri.
  3. Aku ada harapan untuk masa depan: Perasaan tak berdaya, putus asa, dan terjebak, atau percaya bahwa segala sesuatu di hidupnya tak akan pernah membaik.
  4. Membenci diri sendiri: Perasaan tak berharga, bersalah, malu, dan membenci diri sendiri; pernyataan seperti “Bila berkeinginan aku tak pernah dilahirkan ke dunia ini”, atau “Bila benci diri aku sendiri,”
  5. Memberikan “warisan”: Memberikan barang berharga miliknya, menghabiskan waktu khusus di hari-hari terakhirnya untuk anggota keluarga, atau memberikan pengarahan-pengarahan pada orang sekitar
  6. Menyatakan selamat tinggal: Kunjungan atau panggilan telepon ke keluarga dan teman yang kelihatan tak umum atau tak terduga; Menyatakan selamat tinggal pada orang-orang seolah mereka tak akan berjumpa lagi.
  7. Orang-orang yang menunjukkan petunjuk-petunjuk ini kerap kali mengutarakan penderitaan mereka, berkeinginan mendapat tanggapan. Setiap dari tingkah laku dan gelagat yang mereka tunjukkan adalah kabar yang sangat berguna yang tak boleh dikesampingkan. Bantuan Anda sangatlah berharga dan mungkin dapat menyelamatkan satu nyawa. Studi menunjukkan bahwa sekali metode bunuh diri yang mematikan berhasil dicegah, banyak yang tak mencari metode lain untuk mengakhiri hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>