Intrauterine Device (IUD) yaitu satu dari sebagian macam alat kontrasepsi dengan bentuk menyerupai huruf T. Menurut American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), IUD ampuh untuk mencegah kehamilan dengan tingkat kegagalan kurang dari satu persen selama tahun permulaan penerapannya. Namun faktanya, tidak sedikit wanita yang diungkapkan kebobolan hamil meskipun sudah pakai IUD. Mengapa, ya? Lalu, adakah risiko dari hamil pakai IUD ini?

 

Telah pakai IUD, memangnya masih bisa hamil?

IUD alias KB spiral, disematkan ke dalam rahim agar nantinya bisa melepaskan hormon progestin. Hormon ini yang akan bekerja untuk mengentalkan lendir yang ada di leher rahim agar sel telor tidak sukses dibuahi oleh sperma. Jadi, kemungkinan besar Anda tidak bisa hamil pakai IUD.

 

Hal ini ikut disupport oleh Sherry A. Ross, M.D., seorang pakar kesehatan kewanitaan sekaligus penulis buku She-ology: The Definitive Guide to Women’s Intimate Health Period. Ross menerangkan bahwa tingkat keefektifan IUD bisa menempuh sampai 99,9 persen.

READ  Cara mengatasi trauma melahirkan

Sayangnya, meskipun dipercaya ampuh bagi Anda yang ingin menghindari kehamilan, masih ada risiko Anda untuk hamil meskipun sudah mengaplikasikan IUD. Kondisi ini biasanya terjadi ketika posisi IUD bergeser dari daerah permulaan, entah itu hanya sebagian atau sampai keluar dari rahim, seperti yang dituturkan oleh Jessica Shepherd, MD, seorang asisten dosen obstetri dan ginekologi di University of Illinois College of Medicine.

 

Alasan lainnya sebab IUD hormonal baru akan bekerja tepat sasaran ketika dipasang pada tujuh hari pertama jangka waktu menstruasi. Jikalau IUD hormonal dipasang tidak dalam siklus menstruasi, karenanya IUD baru akan tepat sasaran tujuh hari kemudian.

 

Apa risiko yang mungkin terjadi ketika hamil pakai IUD?

READ  Cerdas Menghadapi Anak Rewel Saat Ibunya Sedang Hamil Lagi

Tugas utama IUD yaitu untuk mencegah kehamilan, karenanya tentu akan ada risiko yang membahayakan bagi ibu dan calon bayinya jika hamil pakai IUD. Dalam kasus ini, biasanya dokter kandungan akan menganjurkan agar IUD segera dikeluarkan demi menjaga keselamatan dan kesehatan ketika Anda hamil.

 

Nah, sebagian risiko berikut ini yang ditakutkan akan terjadi jika IUD masih terpasang ketika hamil:

 

  1. Infeksi pada cairan ketuban

Wanita yang hamil pakai IUD berisiko untuk mengalami infeksi chorioamnionitis. Infeksi ini menyerang cairan ketuban yang berfungsi untuk melindungi bayi selama di dalam rahim. Chorioamnionitis tidak bisa dianggap remeh sebab berpotensi untuk mengancam jiwa ibu dan janin dalam kandungan.

 

  1. Kelahiran prematur

Wanita yang masih pakai IUD ketika hamil berisiko sampai lima kali lebih besar untuk melahirkan bayi prematur, dibandingi wanita hamil yang tidak mengaplikasikan IUD.

READ  Apakah Bayi Kembar Selalu Lahir Prematur

 

Namun, meskipun wanita yang diungkapkan hamil dengan masih mengaplikasikan IUD segera melaksanakan pelepasan, kemungkinan mengalami kelahiran prematur memang akan berkurang. Hanya saja tidak benar-benar sirna seutuhnya.

 

  1. Keguguran

Sama halnya seperti kelahiran prematur, wanita yang tiba-tiba hamil ketika pakai IUD berisiko mengalami keguguran sampai sekitar 40-50 persen dibandingi wanita lainnya.

 

  1. Kehamilan ektopik

Ada sekitar 0,1 persen pengguna IUD yang mengalami kehamilan ektopik, dikutip dari Live Science. Kehamilan ektopik, atau yang diketahui dengan hamil di luar kandungan, terjadi ketika sel telor yang sudah dibuahi oleh sperma tidak berkembang di dalam rahim, melainkan di tuba falopi.

 

  1. Abruptio plasenta

Kondisi lain yang mungkin terjadi jika IUD masih terpasang ketika hamil yaitu abruptio plasenta. Abruptio plasenta ditandai dengan plasenta yang lepas dari rahim sebelum pengerjaan persalinan.