Depresi postpartum alias depresi pascamelahirkan merupakan keadaan yang lazim terjadi, melainkan sayangnya acap kali tidak disadari. Satu dari tujuh wanita bisa mengalami depresi usai melahirkan. Risiko ini juga akan meningkat pada ibu yang telah mengalami kecemasan dan depresi dikala hamil. Seketika, apa bisa depresi postpartum kambuh kembali pada kehamilan berikutnya?

 

Para spesialis tidak sepenuhnya memahami kenapa sebagian wanita bisa mengalami depresi sesudah melahirkan, sementara yang lainnya tidak.

 

Apa yang memicu depresi biasanya dipengaruhi oleh sebagian hal berbeda berbeda, dan bukan cuma karena satu penyebab saja. Tetapi pada biasanya, perasaan sedih, gelisah, moody, gampang murka dipicu oleh perubahan hormon sesudah melahirkan.

 

Unsur risiko depresi postpartum meliputi depresi berat sebelum kehamilan, kehamilan umur muda, stress psikososial, dukungan sosial yang kurang memadai, mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang, dan riwayat keluarga dengan gangguan depresi.

READ  Keluar Darah Saat Berhubungan Seks Selama Pakai KB Spiral

 

Gejala depresi postpartum meliputi mood buruk, acap kali menangis, merasa putus cita-cita/nelangsa (keterpurukan), tidak bermotivasi/tidak cakap untuk menikmati kegiatan yang menyenangkan, sulit tidur, kelelahan, perasaan tidak berharga, gangguan makan, kecenderungan bunuh diri, perasaan tidak cakap sebagai ayah dan ibu, dan gangguan konsentrasi.

 

Gejala depresi pascamelahirkan biasanya timbul dalam lima minggu pertama sesudah persalinan, dan berlangsung hingga 6 bulan sesudah persalinan. Tetapi, depresi bisa juga terjadi kapan saja pada tahun pertama.

 

Wanita yang pernah mengalami depresi pasca melahirkan sebelumbya lebih berisiko untuk kembali mengalami depresi pada kehamilan berikutnya.

 

Sheila Marcus, seorang professor dalam bidang psikiatri di Universitas Michigan mengatakan, pada dasarnya bila Anda pernah mengalami satu episode depresi postpartum unipolar, karenanya Anda memiliki risiko sebanyak 30 persen lebih besar untuk mengalaminya lagi.

READ  Normalkah Mengalami Kontraksi Setelah Berhubungan Seks Saat Hamil

 

Kalau Anda mengalami depresi postpartum bipolar, karenanya risikonya kaprah-kaprah 50 persen lebih besar. Kalau Anda pernah mengalami psikosis postpartum (gangguan kejiwaan yang lebih berat dari depresi post partum), karenanya risikonya 70 persen lebih besar untuk kambuh kembali pada kehamilan berikutnya.

 

Peningkatan risiko ini mungkin bisa memengaruhi keputusan banyak wanita dengan riwayat depresi untuk punya si kecil lagi. Untungnya, bila anda memang benar siap untuk memiliki momongan lagi, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko depresi postpartum kambuh lagi.

 

Kalau Anda pernah mengalami depresi post partum, cobalah sebagian tips berikut ini untuk mengurangi risiko kekambuhan:

 

  • Patuh dengan pengobatan Anda. Kalau Anda sedang dalam terapi pengobatan, minumlah obat cocok dengan yang telah ditentukan.
  • Wanita hamil disarankan untuk aktif secara lahiriah. Spesialis mengatakan bahwa wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum bisa mendapatkan manfaat dari setidaknya berolahraga 30-40 menit sebanyak tiga kali seminggu.
  • Kurangi stres. Kurangi stres sebanyak yang Anda bisa dengan melakukan apa yang Anda rasa menyenangkan. Terapi dengan psikolog mungkin bisa membantu Anda mencari tahui hal-hal apa membikin Anda stres sehingga Anda bisa mengontrolnya.
  • Beristirahat lebih banyak. Cukup tidur sesudah bayi lahir merupakan hal yang sangat penting dan Anda wajib mahir dalam memegang waktu istirahat.
  • Pertimbangkan obat-obatan. Sebagian uji klinis menampakkan hasil yang pelbagai pada manfaat mengonsumsi obat antidepresan selama kehamilan. Tetapi, penting untuk mendiskusikannya terutamanya dahulu dengan dokter Anda mengenai dosis dan pertimbangan manfaat dan kerugiannya untuk keadaan Anda.
READ  Ada Kontrasepsi Pria Non-Hormonal Tanpa Efek Samping