Jika bayi yang mati sebelum umur kandungan mencapai 20 minggu, ini disebut dengan keguguran. Meskipun pada bayi yang mati di umur kehamilan lebih dari 20 minggu, hal ini dinamakan dengan bayi lahir mati atau stillbirth. Sesekali, banyak orang menganggap bahwa keguguran merupakan segala kematian bayi sebelum dia lahir ke dunia, padahal berbeda tergantung dari umur kehamilan ibu dikala bayi dikatakan meninggal.

 

Janin lahir mati dapat disebabkan oleh berjenis-jenis hal, seperti keadaan ibu, bayi dalam kandungan, dan juga plasenta. Kecukupan nutrisi ibu selama hamil juga dapat mempengaruhi risiko bayi mengalami lahir mati. Oleh karena itu, diinginkan setelah membaca artikel ini, Anda sebagai ibu hamil dapat lebih mengamati keadaan Anda dan bayi dalam kandungan dalam kandungan.

 

Apa saja penyebab bayi lahir mati?

Satu dari 200 kehamilan dapat mengalami kematian sebelum bayi lahir pada umur kandungan lebih dari 20 minggu. Tidak jauh berbeda dengan penyebab dari keguguran, bayi lahir mati juga dapat disebabkan oleh keadaan ibu maupun bayi dalam kandungan.

 

Sebagian hal yang dapat menyebabkan bayi lahir mati merupakan:

 

  1. Cacat lahir, dengan atau tanpa kelainan kromosom

Kelainan kromosom bertanggung jawab sebesar 15-20% dari segala kejadian bayi lahir mati. Sesekali, bayi memiliki kelainan struktural yang tidak disebabkan oleh kelainan kromosom, namun disebabkan oleh genetis, lingkungan, dan penyebab yang tidak dikenal.

READ  Bagaimana cara mendukung let-down reflex saat menyusui atau memompa ASI

 

  1. Masalah dengan tali pusar

Dikala persalinan, dapat saja terjadi tali pusar bayi yang keluar lebih dulu sebelum bayi keluar (prolaps tali pusar), sehingga menghambat pasokan oksigen bayi sebelum bayi sanggup bernafas sendiri. Tali pusar juga dapat terlilit di leher bayi sebelum persalinan, sehingga mengganggu pernapasan bayi. Dua kejadian yang melibatkan tali pusar ini dapat menyebabkan bayi lahir mati. Tetapi, kejadian ini jarang menjadi penyebab utama dari bayi lahir mati.

 

  1. Masalah pada plasenta

Masalah pada plasenta menyebabkan sekitar 24% dari bayi lahir mati. Masalah pada plasenta ini meliputi pembekuan darah, peradangan, permasalahan dengan pembuluh darah di plasenta, abrupsio plasenta (di mana plasenta memisah terlalu dini dari dinding rahim padahal belum waktunya), dan keadaan lainnya yang terkait dengan plasenta. Wanita yang merokok selama kehamilan lebih mungkin untuk mengalami abrupsio plasenta dibandingi wanita yang tidak merokok.

 

  1. Keadaan kesehatan ibu

Seumpama diabetes, tekanan darah tinggi, preeklampsia, lupus (gangguan autoimun), obesitas, trauma atau kecelakaan, trombofilia (keadaan kelainan pembekuan darah), dan penyakit tiroid. Tekanan darah tinggi atau preeklampsia dikala hamil meningkatkan risiko abruptio plasenta atau bayi lahir mati dua kali lebih besar.

 

  1. Intrauterine growth restriction (IUGR)

IUGR membuat bayi dalam kandungan memiliki risiko tinggi kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi ini kemudian membuat pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan terganggu. Pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan yang berjalan amat lambat dapat menempatkan bayi dalam kandungan pada risiko lahir mati. Janin yang kecil atau tidak tumbuh pantas dengan usianya berisiko mengalami kematian karena asfiksia atau kekurangan oksigen sebelum atau selama kelahiran.

READ  Jenis Makanan yang Harus Dihindari Dulu Setelah Melahirkan

 

  1. Infeksi selama kehamilan yang dapat mempengaruhi ibu, bayi, atau plasenta

Sekitar 1 dari 10 kejadian bayi lahir mati disebabkan oleh infeksi. Sebagian infeksi yang dapat menyebabkan bayi lahir mati merupakan sitomegalovirus, rubella, infeksi saluran kencing dan saluran kelamin (seperti herpes genital), listeriosis (dampak keracunan makanan), sifilis, dan toksoplasmosis. Sebagian infeksi ini mungkin tidak menampilkan gejala dan mungkin juga tidak terdiagnosis sebelum ibu mengalami keadaan yang lebih serius, seperti kelahiran prematur atau bayi lahir mati.

 

Apa saja yang dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati?

Sama seperti keguguran, bayi lahir mati tentu bukan kejadian yang diinginkan oleh segala ibu hamil. Berikut ini merupakan hal-hal yang dapat membuat Anda memiliki risiko bayi lahir mati lebih tinggi. Dengan mengenal hal ini, Anda dapat mencegah atau mengurangi risiko Anda untuk mengalami kejadian bayi lahir mati.

 

  1. Pernah mengalami kejadian bayi lahir mati sebelumnya

Dengan pernah memiliki pengalaman seperti itu, diinginkan Anda lebih mengamati kehamilan Anda berikutnya. Penuhi kebutuhan nutrisi Anda dan bayi dalam kandungan, serta lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk mengenal perkembangan dan keadaan kehamilan Anda. Riwayat kelahiran prematur atau preeklampsia juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati.

READ  Caranya Agar Bayi Tidur Lebih Teratur

 

  1. Kehamilan kembar atau lebih

Kehamilan kembar mungkin menyenangkan, namun jangan lupa untuk juga lebih mengamati kehamilan kembar Anda. Komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan kembar lebih tinggi dibandingi dengan kehamilan tunggal, termasuk juga kejadian bayi lahir mati yang lebih tinggi.

 

  1. Umur dikala hamil

Umur dikala kehamilan yang terlalu muda (di bawah 15 tahun) maupun umur dikala kehamilan yang lebih tua (di atas 35 tahun) menempatkan Anda pada risiko yang lebih tinggi kepada kejadian bayi lahir mati. Oleh karena itu, penting untuk merencanakan kehamilan Anda.

 

  1. Obesitas

Penting bagi Anda untuk menjadi berat badan sebelum maupun selama kehamilan. Merokok badan yang amat kurang maupun yang amat berlebih (obesitas) dapat meningkatkan risiko kejadian yang tidak diinginkan, seperti bayi lahir mati ini. Sebaiknya observasi berapa penambahan berat badan yang patut Anda penuhi selama kehamilan, sesuaikan dengan berat badan Anda sebelum hamil.

 

  1. Jika, minum alkohol, dan obat-obatan

Ketiga hal ini dapat meningkatkan risiko Anda mengalami bayi lahir mati. Jauhi ketiga hal ini dikala kehamilan. Jika Anda memerlukan konsumsi obat-obatan dikala kehamilan, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter Anda.